Di Balik Cuek Papa



Duduk termenung aku di sebuah ayunan depan rumah. Ayunan yang papa bangun karena aku berhasil menjadi juara kelas empat tahun lalu. Ayunan dengan tali rantai besi dan dudukan kayu jati tua ini memang selalu menemani ketika aku bersedih.

Diam dalam lamunan, aku mendengar deruman halus mobil Avanza Veloz putih memasuki gerbang rumahku. Mobil itu menuju garasi. Ya, itu mobil papa. Papa pulang lebih awal dari biasanya.

Setelah menata mobilnya, papa masuk ke rumah lewat pintu utama. Dengan setelan kantornya terlihat membawa sebuah kotak coklat berukuran tiga puluh kali empat puluh sentimeter ke dalam rumah. Dia tidak menegurku. Memang tiga hari ini papa selalu cuek, tidak hanya padaku, tapi juga pada ibu dan kakakku. Aku berpikiran papa punya masalah besar di kantornya.

Papaku adalah seorang pengusaha properti. Papa sudah merintis usahanya sejak aku berumur empat tahun. Dulu papa hanya ikut temannya untuk berbisnis properti. Tetapi setelah papa bekerja tiga tahun, akhirnya papa memutuskan untuk membangun usahanya sendiri.

Dari awalnya tidak mempunyai karyawan, akhirnya sekarang papa bisa mempekerjakan tigapuluh karyawan untuk bisnis ini. Kantor papa tak jauh dari rumah, hanya limabelas menit saja. Kadang ketika aku bosan di rumah, aku main ke kantor papa naik sepeda. Papa selalu punya hal yang membuatku senang. Dia periang, tak pernah marah padaku.

Masalah sebesar apa yang membuat papa begini? Aku bertanya-tanya dalam lamunan.

"Nu, Banu, jangan melamun terus. Ayo main bola!". Teriakan Lano dari luar gerbang, keras, membuatku keluar dari lamunan.

"Eh Lano, ngagetin aja. Oke sebentar aku ambil sepatu bola dulu ya".

Aku berpikir daripada aku hanya melamun tanpa guna memikirkan sikap cuek ayah, lebih baik aku main bola agar badanku sehat dan pikiranku segar.

Ayunan itu bergerak lembut ketika aku bangun dan mengambil sepatu bolaku. Rak sepatu bolaku ada di sudut garasi, di situ tertumpuk banyak sepatu, tidak tertata rapi. Ku ambil sepatu bola. Menuju ke sepeda yang terparkir di sebelah mobil papa. Jari telunjuk dan jari manis masuk ke lubang sepatu dan  kududukan sepatu di pahaku mengayuh sepeda keluar.

"Ayo kita berangkat, Lano!".

Lapangan bola tempat kami bermain tidak jauh, hanya berjarak lima tiang listrik ke arah timur dari rumahku. Lapangan itu terletak di belakang pabrik gula. Jarak gawang sebelah barat dengan pabrik gula hanya tiga-empat meter saja. Pagar itu cukup tinggi, kira-kira sepuluh meter tingginya. Luas pabrik gula ini tiga-empat ratus meter persegi. Semuanya dikelilingi dengan pagar. Bola yang ditendang meleset dari gawang, pasti memantul ke pagar tersebut.

Sebelah selatan lapangan terdapat pepohonan jati yang tumbuh subur dan menjulang tinggi. Sekitar duapuluh meter dari belakang gawang sebelah timur terdapat rumah kecil. Luasnya hanya tiga kali empat meter.  Dindingnya masih dari anyaman bambu. Atapnya dari seng, namun kelihatannya banyak yang bocor. Itu adalah rumah Danar, adik kelasku.

Danar setiap sore selalu datang ke lapangan. Bukan untuk bermain, tetapi hanya duduk di panggok bambu di bawah pohon mangga besar sebelah utara lapangan, hanya melihat. Dia tidak mampu untuk membeli sepatu bola.

Empat menit berlalu, aku dan Lano sampai di lapangan. Teman-teman lain pun sudah ramai berkumpul di lapangan. Dan seperti biasa, Danar sudah duduk manis di panggok bambu itu.

Aku turun dari sepedaku dengan tangan yang masih menenteng sepatu. Aku parkirkan sepedaku di bawah pohon mangga di dekat panggok yang diduduki Danar, Lano pun demikian.

Lano langsung bergegas masuk ke lapangan sambil berlari menenteng sepatunya. Tetapi lain hal denganku.

Sudah lama aku merasa iba dengan keadaan Danar.  Di kala teman-teman lain asyik berlari dan menendang bola, ia hanya bisa menonton saja.

Dulu Danar pernah ikut main bola, dia nyeker. Awalnya memang lancar-lancar saja, tetapi saat terjadi perebutan bola kaki Danar terinjak. Kakinya membengkak biru. Itulah yang membuat Danar tidak lagi berani bermain bola tanpa sepatu.

"Mas Banu kenapa enggak masuk ke lapangan mas?" tanya Danar padaku.

"Kaki aku agak sakit Nar, gara-gara keseleo kemarin. Kamu mau main enggak?" alibi palsuku terucap sambil menata posisi duduk di panggok, sebelah Danar.

"Hehe... pengin main sih mas, tapi Danar enggak ada sepatu mas".

"Nih pakai sepatu aku dulu Nar." aku mengulurkan sepatuku.

"Maaf mas, bukannya Danar enggak mau. Tapi Danar takut sepatu mas jadi rusak, Danar enggak bisa menggantinya nanti."

"Sudah masalah itu gampang, pegang ini. Sekarang sepatu ini jadi milikmu Nar."

"Ah mas Banu ada-ada aja. Itu kan sepatu kesayangan mas Banu, enggak mungkin dikasih ke orang lain mas.

"Keburu maghrib nanti mas, buruan mas masuk ke lapangan." Danar tersenyum.

"Nar, enggak baik loh nolak rejeki dari orang. Sekarang sepatu ini punyamu, kamu bisa main bola setiap hari pakai sepatu ini. Sekarang pakailah dan masuk ke lapangan." aku memaksa Danar menerima sepatu itu.

Dengan wajah terkejut bercampur rasa bahagia, Danar menerima sepatu dariku dan mengucapkan terimakasih padaku. Lekas dia lari masuk ke lapangan begitu antusias.

***

Adzan maghrib berkumadang merdu, itu tandanya pertandingan selesai dan kami harus segera pulang. Aku dan Lano segera meraih sepeda yang terparkir di bawah pohon manga dekat panggok, lalu mengayuhnya santai.

"Nu, sepatumu mana ?" tanya Lano dengan suara yang masih tergopoh-gopoh.

"Sepatu itu sudah jadi milik Danar, aku enggak tega melihat dia setiap hari hanya duduk di panggok menonton kita main bola. Dia juga berhak main bola, Lan." ujarku terharu sambil menatap tegas wajah Lano.

Sementara dua-tiga percakapan lagi, akhirnya aku sampai di rumah. Aku terkejut, benar-benar terkejut. Garasi rumah sudah tertutup rapat. Lampu rumah semua mati kecuali lampu bundar di atas pagar. Rumah begitu sepi dan sungguh menyeramkan bagiku. Aku tak pernah ditinggal sendirian di rumah. Jika memang papa, mama, dan kakak mau pergi, pasti papa selalu memerintahkan paman Sino untuk menemaniku.

Aku langsung masuk ke halaman rumah, ku parkirkan sepedaku sembarang. Bergegas lari ke pintu utama. Aneh, kalau memang semuanya pergi kenapa pintu rumah dibiarkan dalam kondisi tak terkunci seperti ini. Aku sempat berfikir telah ada pencuri profesional yang telah masuk ke rumahku dan menyekap keluargaku.

Kubuka pintu utama itu, dan boom.........!!!

Lampu rumah menyala seketika. Nampak balon-balon memenuhi ruang utama rumahku. Serpihan kertas warna-warni turun dari atas kepalaku dan memenuhi ruangan itu. Suara terompet yang begitu keras memekakan kupingku. Datanglah mama membawa kue ulang tahun dengan lilin angka dua belas, papa dengan sebuah kotak yang sama seperti yang aku lihat ketika papa pulang kantor tadi, dan kakak yang terus meniup terompet dengan begitu keras.

Sungguh ini kejutan yang luar biasa. Aku sangat terharu dan bahagia.

"Jadi selama ini papa cuek karena mau bikin kejutan ulang tahunku?" tanganku sedakep, mendongak ke atas menatap papa dengan wajah bahagiaku.

"Iya Banu, papa pengin bikin kejutan spesial buat Banu. Permainan peran papa sudah terlihat seperti bintang film kelas kakap bukan?" papa meledekku sambil mengedipkan mata ke arah mama dan kakak.

"Ah papa! Bukan kelas kakap lagi pa, tapi kelas arwana hahaha." aku balik meledek papa.

"Dasar anak papa emang sukanya nyeleneh. Ini hadiah buat kamu, Nu." papa mengulurkan kotak dan memberikannya padaku.

Dengan penuh semangat dan antusias, kubuka kotak tersebut. Rasa bahagiaku begitu bertambah ketika melihat isi kotak itu. Papa memberiku hadiah sepatu bola yang memang satu bulanan ini aku selalu ceritakan pada ayah.

Peluk kencangku mendarat pada papa seketika setelah aku melihat isi kotak tersebut. Hariku saat itu begitu bahagia.

END...

Ketika kamu merelakan sesuatu demi orang lain, percayalah Tuhan sudah siapkan sesuatu yang lebih besar bagimu.

Nah, gimana ceritanya? Seru kan...

Supaya kalian bisa membaca lebih banyak lagi cerita seru dan memotivasi lainnya dari Rujend, pastikan Anda follow blog kami yaa....

Jangan lupa juga untuk subscribe newsletter dari kami, dan like fan page kami. Sampai jumpa di postingan Rujend berikutnya. Terimakasih...

0 Response to "Di Balik Cuek Papa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel